BeritaFigur

Kisah Awal di Balik Suksesnya Haji Her Jadi Pengusaha Tembakau di Madura

×

Kisah Awal di Balik Suksesnya Haji Her Jadi Pengusaha Tembakau di Madura

Sebarkan artikel ini
CEO PT Bawang Mas Group atau biasa disapa Haji Her saat memberikan sambutan dalam sebuah acara di Madura.

PORROS.ID | PAMEKASAN-Di balik tumpukan daun tembakau yang menguning di ladang-ladang Madura, ada cerita panjang tentang harapan. Bukan sekadar soal panen atau harga, tetapi tentang anak-anak petani yang bisa tetap bersekolah, dapur yang kembali mengepul, dan rumah-rumah yang perlahan menjadi layak huni.

Cerita itu dituturkan oleh Haji Khairul Umam, yang lebih dikenal sebagai Haji Her. Dengan nada tenang, ia tidak banyak bicara soal keuntungan usaha. Yang ia ulang-ulang justru soal mimpi.

“Apa impian saya? Saya tidak ingin melihat ada di sekitar saya khususnya di Madura ini orang-orang yang tidak mampu lagi membiayai anaknya sekolah. Saya ingin melihat tidak ada lagi di sekitar saya rumah-rumah yang tidak layak. Saya ingin melihat kalian semua ini sejahtera,” tuturnya.

Bagi sebagian orang, tembakau adalah komoditas dagang. Namun bagi Haji Her, tembakau adalah urat nadi kehidupan. Ia memahami betul bagaimana satu musim buruk bisa mengubah segalanya, dari dapur yang tak lagi berasap hingga anak-anak yang harus berhenti sekolah.

Di titik itulah, ia mulai bicara tentang uang. Bukan untuk pamer, melainkan sebagai bentuk keterbukaan.

“Jadi kemarin uang yang ada di saya itu tiga miliar seratus juta rupiah (Rp 3,1 miliar). Uang ini sama saya digunakan untuk membeli tembakau petani dan saat ini setelah tembakaunya sudah dijual, dana Rp 3,1 miliar itu menjadi Rp 3,133 miliar,” ungkapnya pada sebuah kegiatan yang digelar Minggu (5/4/2026) lau.

Namun angka itu bukan cerita utamanya. Di balik Rp3,1 miliar yang berputar menjadi Rp4,133 miliar, ada jejaring besar yang bekerja diam-diam; ratusan pondok pesantren, para kiai, dan para pengusaha yang mengumpulkan modal.

Sekitar 350 pesantren, kata dia, turut menghimpun dana. Nilainya beragam, dari jutaan hingga miliaran rupiah. Semua disatukan oleh satu tujuan: membeli tembakau petani agar harga tidak dipermainkan.

“Untuk apa tujuannya? Untuk membantu orang tani. Untuk membantu membeli tembakau orang petani,” ujarnya.

Keuntungan dari perputaran itu pun tidak berhenti di kantong pribadi. Ia mengalir kembali—ke lembaga pendidikan, ke rumah-rumah tak layak huni, ke masyarakat yang selama ini berada di garis tipis antara bertahan dan menyerah.

“Keuntungannya untuk lembaga-lembaga pendidikan. Untuk rumah-rumah yang tidak layak,” katanya.

Haji Her berulang kali menegaskan satu hal yang menurutnya penting: asal-usul uang tersebut.

“Ini murni modal dari kita. Bukan dari hasil mencuri, bukan merampok, bukan korupsi,” tegasnya.

Cerita ini bermula dari sebuah pertemuan pada 2022. Saat itu, ia dipanggil oleh seorang ulama, Kiai Muhammad Rofi’ Baidawi, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamidi Banyuanyar.

Di sana, ia mendengar langsung realitas pahit yang selama ini hanya terlihat di permukaan.

Haji Her, nikah oreng tani nikah ekamain. Ben pabrik-pabrik nikah ekamain (Haji Her, petani ini dipermainkan oleh pabrik-pabrik). Tiga tahun rugi, setahun untung. Setahun untung, tiga tahun rugi. Ekamain ben pabrik (dipermainkan oleh pabrik),” demikian Haji Her menirukan ucapan Kiai Muhammad Rofi’ Baidawi.

Kalimat itu bukan sekadar keluhan. Ia adalah potret ketimpangan. Ketika petani terus berada dalam siklus rugi, sementara harga ditentukan oleh kekuatan besar di luar mereka.

Dampaknya nyata. Banyak wali santri tak mampu membayar biaya pendidikan. Buku, seragam, bahkan ongkos mondok menjadi beban yang tak terjangkau.

Dari kegelisahan itu, lahir gagasan yang sederhana, tetapi berani.

Sobung laen kantoh kiai caranah (tidak ada cara lain lagi kiai). Kita kumpulkan uang yang banyak. Kita saingi pabrikan-pabrikan itu biar mereka tidak sembarangan beli tembakau,” ucapnya.

Gerakan itu kemudian berkembang menjadi ikhtiar kolektif. Musyawarah digelar. Para alim ulama dari Madura hingga Jawa Timur terlibat. Modal mulai terkumpul.

“Ada yang memberi lima juta. Ada yang memberi dua ratus juta. Ada yang memberi enam ratus juta. Ada yang memberi milyaran,” katanya.

Ia bahkan menyebut salah satu pihak yang ikut berkontribusi besar. “Al Falah Sumber Gayam salah satu yang menaruh modalnya di saya, miliaran,” ujar CEO PT Bawang Mas tersebut.

Dana yang terkumpul itu kemudian diputar untuk membeli tembakau langsung dari petani. Sebuah langkah untuk memutus ketergantungan terhadap pabrikan besar.

Empat tahun berjalan, perubahan mulai terasa. Tidak dramatis, tetapi cukup untuk mengubah arah hidup banyak orang.

“Alhamdulillah langkah kita berhasil. Empat tahun ini petani sejahtera utuh terus,” ujarnya.

Kini, kata dia, petani mulai bisa kembali membiayai sekolah anak-anaknya. Dapur mulai dibangun. Rumah mulai diperbaiki.

Namun, di balik semua itu, Haji Her menolak berdiri di depan sebagai tokoh utama. Ia justru menunjuk para kiai dan pesantren sebagai penggerak sesungguhnya.

Ghenikah (inilah) adalah jasa dari para alim ulama. Jangan salah sampean,” tuturnya.

Ia juga mengingat bagaimana perjuangan itu bukan tanpa risiko. Modal dikumpulkan dari berbagai cara, termasuk pinjaman bank. Semua dilakukan dengan satu keyakinan: bahwa ekonomi harus bergerak dari bawah.

“Jadi benni olen ngecok. Benni olen rampok (bukan dari hasil mencuri dan merampok),” ucapnya, menegaskan bahwa semua dilakukan dengan cara yang benar.

Di Madura, sekitar 70 persen ekonomi bertumpu pada tembakau. Jika sektor ini goyah, maka hampir seluruh sendi kehidupan ikut terguncang. Dari pedagang kecil hingga kebutuhan sehari-hari.

Mun (kalau) perekonomian tembakau tidak jalan maka sebedenah ekonomi nikah adek se jelenah (tidak ada yang jalan),” katanya.

Kesadaran itulah yang membuat Haji Her tetap bertahan di jalur ini. Bukan sekadar sebagai pengusaha, tetapi sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan hidup masyarakat.

Di ujung ceritanya, ia kembali pada komitmen awal yang sederhana, tetapi berat untuk dijalankan.

“Maka dari ge nikah (itulah) waktu itu saya berkomitmen sudah harus bisa mensejahterakan para petani tembakau,” pungkas alumni Pesantren Al Falah Sumber Gayam ini. (ALI SYAHRONI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *