BeritaBudaya

Kekayaan Budaya yang Memukau: Mengenal Macam-Macam Tarian Madura

×

Kekayaan Budaya yang Memukau: Mengenal Macam-Macam Tarian Madura

Sebarkan artikel ini
Sejumlah siswi sedang menampilkan salah satu tarian Madura

PORROS.ID | Pamekasan – Pulau Madura, yang dikenal dengan julukan “Pulau Garam”, tidak hanya kaya akan hasil bumi dan kuliner khasnya seperti Sate Madura. Lebih dari itu, tanah ini menyimpan segudang warisan budaya yang adiluhung, salah satunya adalah seni tari. Tarian asli Madura bukan sekadar gerakan indah, melainkan cerminan jiwa, semangat, dan filosofi hidup masyarakatnya yang keras namun penuh dengan estetika.

Berikut adalah beberapa tarian asli Madura yang hingga kini masih dilestarikan, baik untuk upacara adat, hiburan, maupun penyambutan tamu:

1. Tarian Dhânggâ’ (Tari Dhangka)

Tarian ini adalah salah satu ikon budaya Madura yang paling populer. Nama “Dhânggâ’” diambil dari bunyi alat musik pengiringnya, yaitu “dhâng” dan “gâ’” dari seruling dan gendang.

Tari Dhânggâ’ biasanya dibawakan oleh 4 hingga 8 orang penari wanita dengan gerakan yang dinamis, energik, dan penuh keceriaan. Para penari menari berpasangan atau berbanjar sambil sesekali berteriak atau bersorak khas Madura. Kostumnya sangat mencolok dengan warna-warna cerah seperti merah, kuning, dan hijau. Penari mengenakan baju korset, kain batik Madura (khas dengan motif “Pare Bârâ'” atau “Taman Mangrove”), serta sanggul khas Madura yang dihiasi bunga melati dan kaca mata hitam (kacamata) sebagai ikon modernitas yang sudah menyatu.

Filosofi Tari Dhânggâ’ Melambangkan semangat kerja keras, kegembiraan, dan jiwa sosial masyarakat Madura. Gerakan yang lincah menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat pesisir yang tidak pernah diam. Penggunaan kacamata hitam melambangkan bahwa orang Madura tidak mudah terpengaruh oleh “cahaya dunia” atau godaan luar.

2. Tarian Topeng Dharmo Gangsa (Topeng Dharmo Gangsa)

Berbeda dengan Tari Dhânggâ’ yang meriah, Tari Topeng Dharmo Gangsa lebih sakral dan penuh makna filosofis. Tarian ini adalah bentuk adaptasi dari wayang topeng Malang, namun telah digarap dengan nuansa lokal Madura yang kental.

Tarian ini dimainkan oleh seorang penari pria (atau wanita) yang menggunakan topeng kayu. Gerakannya lambat, gemulai, tetapi penuh penghayatan. Yang unik, tari ini memiliki gerakan *ngalâk* (merangkak seperti kura-kura) dan *ngonte* (gerakan kepala khas). Tari ini biasanya mengisahkan kisah Raden Panji Asmoro Bangun (Dharmo Gangsa) yang mencari cinta sejatinya. Iringannya adalah gamelan Madura yang dominan dengan saronen (seperti serunai) dan kendang.

Filosofi Topeng Dharmo Gangsa ini melambangkan pencarian jati diri, keteguhan hati, dan pengendalian emosi. Topeng melambangkan bahwa manusia memiliki banyak wajah dan tabir, sementara gerakan *ngalâk* mengajarkan kerendahan hati.

3. Tarian Moang Sangkal (Tari Moang Sangkal)

Tarian ini tergolong langka dan hanya ditemui di daerah Bangkalan serta Sampang. Moang Sangkal adalah tarian perang tradisional yang menggambarkan keberanian seorang ksatria Madura.

Tarian ini dibawakan oleh dua orang atau lebih penari pria yang gagah. Mereka menggunakan properti utama berupa *moang* (parang panjang atau celurit) dan *sangkal* (perisai bundar dari kulit kerbau). Gerakannya gesit, keras, penuh hentakan kaki, dan simulasi serangan serta tangkisan. Iringannya hanya menggunakan kendang dan saronen dengan tempo cepat (ketepokan).

Filosofi Tari Moang Sangkal Melambangkan jiwa ksatria, *bâ’ bâghel* (malu/tidak mau menyerah), dan semangat membela kehormatan. Tarian ini sering ditampilkan saat menyambut tamu kehormatan atau sebelum kontrakan (karapan sapi) besar dimulai.

4. Tarian Rondhing

Jika Karapan Sapi adalah adu cepat di darat, maka Tari Rondhing adalah “karapan” di atas panggung. Tarian ini menirukan gerakan sapi-sapi Madura yang sedang berlari kencang.

Tari Rondhing biasanya dibawakan oleh dua orang pria yang berperan sebagai “sapi” dan satu orang sebagai “joki” (anak sapi atau *tongko’*). Kedua penari “sapi” merangkak dan bergerak cepat mengikuti irama gendang yang menderu. Mereka menggunakan kostum yang dihias dengan *kalowang* (lonceng kecil) yang berbunyi “kring-kring” mengikuti gerakan, serta kepala sapi tiruan dari bambu atau kayu. Si “joki” berdiri atau berjingkat di atas punggung kedua “sapi” itu.

Filosofi tarian ini melambangkan kekuatan, kecepatan, dan kerjasama antara manusia dan alam (ternak). Ini adalah bentuk rasa syukur petani/peternak atas kekuatan sapi yang membantu mereka.

5. Tarian Mhaba’ Bhuju’ (Tari Pikul Kera)

Tarian lucu yang berfungsi sebagai hiburan rakyat. Nama “Mhaba’ Bhuju’” berarti “memikul kera”.

Tarian ini dibawakan oleh dua orang. Satu orang memerankan “kera” yang duduk di atas pikulan bambu, sementara satu orang lagi memikulnya sambil berjalan goyah. Penari kera akan bergerak aktif, menggaruk-garuk badan, memakan kacang, atau mencuri peci si pemikul. Gerakannya improvisasi dan penuh kejutan lucu. Iringannya adalah lagu-lagu Madura yang riang.

Meskipun terlihat lucu, Filosofi tarian ini menyiratkan kritik sosial tentang kesenjangan dan keusilan, serta menjadi media katarsis (pelepas ketegangan) bagi masyarakat setelah seharian bekerja keras.

Upaya Pelestarian

Saat ini, berbagai sanggar seni di empat kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep) terus berjuang mengajarkan tarian-tarian ini kepada generasi muda. Pemerintah daerah juga rutin menggelar Festival Pesona Keraton (Pamekasan) dan Pekan Seni Budaya Madura sebagai wadah pelestarian.

“Tarian ini adalah identitas kami. Jika tidak dilestarikan, Madura hanya akan dikenal dengan karapan sapi dan kejarnya saja, padahal budayanya sangat halus dan mendalam,” ujar Suharman, seorang koreografer asal Sumenep. Dengan mengenal dan melestarikan tarian ini, kita turut menjaga api semangat budaya Madura agar tak pernah padam ditelan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *